Selasa, 04 September 2012

Perkembangan Gereja-gereja di Indonesia Abad XX-XXI



PERKEMBANGAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA ABAD XX-XXI

Kompetensi Dasar (Tujuan khusus)

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa mampu menggambarkan sejarah perkembangan gereja-gereja Indonesia.

Materi pembahasan:

1.         Gereja Katolik

Gereja Katolik adalah salah satu gereja terbesar di Indonesia. Gereja ini ada di berbagai wilayah di Indonesia.

2.         Gereja-gereja Calvinis (Reformed, Presbiterian)

Gereja bentukan pemerintah Belanda zaman colonial yaitu GPI. Dari Gereja ini berasal beberapa Gereja yang beraliran Calvinis di Indonesia yaitu: GMIM di yang berkembang di Minahasa, GPM yang berkembang di Ambon, GMIT yang berkembang di wilayah NTT, GPIB yang berkembang di wilayah Indonesia bagian Barat, GPIBT, GPID, GPIG, GKLB, GPI Irja (sekarang Papua). Di kemudian hari, yaitu pada pertengahan abad ke-19 bertambah lagi organisasi gereja yang beraliran Calvinis, yaitu GKJ, GKI Jateng, GKS di Sumba, GKI Sumut, Gereja Toraja, GGRI (Gereja-gereja Reformasi Indonesia) yang bekerja di Sumba Timur,  Irian Jaya (Papu), dan Kalimantan. 
Berbagai organisasi gereja yang beraliran Calvinis yang kita sebutkan di atas berkembang di Indonesia sampai dengan sekarang dan masa-masa yang akan datang.

3.         Gereja-gereja Lutheran
Gereja-gereja yang beraliran Lutheran di Indonesia seperti: HKBP, GKPS, GPKB, GKPI, HKI, GKLI, GKPA, GKPM. Gereja-gereja ini adalah hasil pelayanan badan misi Rheinische Missions-gesellschaft (RMG), sebuah lembaga PI dari kawasan Rheinland, Jerman. Selain itu, lembaga ini bekerja di Nias dan sekitarnya, hasilnya: BNKP, ONKP, AMIN

4.         Anglican (Episkopal)

Pemicu lahirnya  Gereja Anglikan atau Gereja Inggris adalah peristiwa yang berhubungan dengan Raja Henry VIII yang memerintah tahun 1509 – 1547. Ia mengalami konflik dengan Paus di Roma sehubungan dengan masalah perkawinannya, yaitu memohon kepada Paus untuk membatalkan pernikahan dengan Catharina, sekaligus meresmikan perkawinananya dengan salah satu gundiknya, Anne Boleyn namun tidak ada tanggapan dari Paus. Henry kemudian menikah secara rahasia. Uskup Agung di Inggris kemudian mengumumkan pembatalan pernikahan Henry dengan Catharina dan mengakui perkawinan dengan Anne Boleyn. Atas tindakan itu, Paus mengeluarkan maklumat pengucilan (ekskomunikasi) atas Henry VIII dan Cranmer (Uskup Agung Canterbury).  Atas dasar ini kemudian Raja memisahkan Gereja Inggris dengan gereja Katolik yang berpusat di Roma. Selanjutnya gereja Inggris berdiri sendiri tanpa diatur oleh Paus. Demikianlah reformasi gereja Inggris.
Inggris pernah berkuasa di Indonesia pada tahun 1811-1816 (di Sumatera sampai tahun 1825). Walaupun demikian jemaat Gereja Anglikan tidak sempat terbentuk di Indonesia. Ada beberapa alas an: sebagian besar pejabat pemerintah colonial Inggris yang bertugas di Indonesia adalah penganut Humanisme yang diserapi semangat pencerahan, sehingga kurang berminat terhadap soal-soal kegerajaan. Kendati, misalnya, Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendukung penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan daerah, hal itu lebih merupakan bagian dari studi di bidang bahasa dan kemasyarakatan dalam rangka pengabdian yang lebih didorong oleh semangat Humanisme, ketimbang oleh semangat penginjilan.
Gereja Anglikan yang berada di Jakarta yaitu di Jalan Arif Rahman Hakim (tugu Pak Tani, Prapatan Jakarta Pusat) adalah hasil penginjilan dari Pdt. W.H. Medhurst seorang misionaris  utusan London Missionary Society (LMS). Sedangkan Jemaat Anglikan yang  di Surabaya, yaitu di Jalan Diponegoro Surabaya  merupakan hasil dari hubungan erat dengan badan misi Southern Baptist Mission dari Amerika. Anggota gereja Anglikan di Indonesia terutama terdiri dari warga Inggris dari luar negeri. Hal ini disebabkan karena badan-badab penginjilan yang berasal dari gereja Anglikan tidak sempat memenangkan warga masyarakat pribumi. Mereka terutama bekerja di negeri-negeri jajahan Inggris yang tersebar di seluruh dunia, khususnya di Asia dan Afrika, sejak abad ke-19 (Aritonang, 2005: 81, 94-96)

5.         Mennonit
Gereja ini dimulai di Swis tahun 1525. Gereja ini merupakan bagian dari gerakan annabaptis yang muncul di Eropa tidak lama setelah Marthin Luther mengadakan Reformasi Gereja.
Nama Mennonit berasal dari nama Menno Simon, tokoh gerakan Anabaptis di Belanda, yang menganut garis moderat (menolak gaya nubuat Melchior Hoffman, 1493-1543 yang menubuat sbb: Yerusalem baru yang rohani tak lama lagi akan terwujud di Strasburg) dan anti kekerasan.
Kehadiran gereja ini di Indonesia melalui dua organisasi gereja di Semarang, yaitu GITJ yang berpusat di Pati, dan PGKMI yang berpusat di Semarang. Kedua gereja ini telah menjadi anggota PGI.

6.         Gereja Baptis
Gereja Baptis termasuk gereja terbesar di dunia. Pusatnya di Inggris dan Amerika. Dari sana tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia kita kenal ada:
Ø  Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) adalah hasil PI dari pekerjaan Misi Baptis Indonesia.
Ø  Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI). Gereja ini berpangkal di Singkawang, KalBar. Gereja ini adalah hasil PI dari John G. Breman, seorang penginjil berdarah Belanda-Amerika sejak 1925 dengan bekerjasama dengan Conservative Baptist dari Amerika yang mengutus penginjil ke Singkawang tahun 1961 dan menjadi organisasi gereja sejak 1965. Sejak tahun 1984, gereja ini berkembang propinsi lain di Kalimantan, Jawa, Sumatera dan Bali. Gereja ini memulai pelayan medis di Serukam, hotel (penginapan murah) bagi pemuda-pemudi, sekolah Alkitab dan pendidikan teologi ekstensi bagi para pengerja pribumi.
Ø  Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI): berpangkal di Manado.
Ø  Gereja Baptis Independen di Indonesia (GBII)
7.         Metodis
Gereja ini dihubungkan dengan John Wesley bersaudara. Gereja ini masuk ke Indonesia melalui Singapura. Dan berkembang pesat di Indonesia

8.         Pantekostal

Aliran ini muncul di Amerika dan berkembang ke Indonesia. Hasil misionaris dari Amerika yang beraliran pentakosta di mulai di Indonesia pada tahun 1921 dan berkembang pesat di Indonesia. Hasilnya adalah Gereja Pentakosta di Indonesia dan mengalami perpecahan: Gereja Sidang Jemaat Pentakosta, Gereja pantekosta Serikat Indonesia, Gereja Kegerakan Pentakosta, Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Bethel Injil Sepenuh, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Isa Almasih, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Gereja Pentakosta Tabernakel, Gereja Kerapatan Pantekosta, dll. Ada 38 aliran pentakosta.
9.         Injili (Evangelical)
Gereja-gereja yang lahir melalui usaha PI oleh pribadi-pribadi yang menaruh minat pada PI di Indonesia.

Beberapa organisasi Gereja tidak sempat dibahas di sini karena terlalu banyak.

Tugas mahasiswa:

Mendata berbagai organisasi gereja yang ada di Indonesia

Sejarah Gereja Indonesia Sejak Thn. 1930 - Kini



SEJARAH GEREJA DI INDONESIA SEJAK Thn.1930-Kini.

Setelah membaca/membahas/berinteraksi bab ini mahasiswa mampu:
Ø  Menjelaskan Gereja dan pergerakan Nasionalisme
Ø  Menjelaskan Gereja pada masa pendudukan Jepang
Ø  Menjelaskan Gereja di masa perang kemerdekaan RI
Ø  Menjelaskan Gereja Indonesia yang bertumbuh sejak 1950

Materi Pembahasan:

8.1.   Gereja dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)

Kekristenan dan Nasionalisme : Zakharia Ngelow
Theodoran Muller Kruger, 70 thn memperingati Usia Prof. Dr. Th. Muller Kruger

Menurut Fridolin ukur, munculnya gerakan Nasionalisme atau keinginan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari jajahan turut mempengaruhi Gereja atau orang-orang Kristen di Indonesia dalam dua hal:
Pertama, semangat nasionalisme menyebabkan orang-orang Kristen (jemaat-jeamaat) untuk bersatu dan membentuk suatu gereja yang berdiri sendiri. Semangat yang dikobarkan untuk membebaskan diri dari penjajahan serta mengatur diri sendiri ikut pula menunjang cita-cita kearah otonomi gereja, yang bebas dari dominasi para misionaris (M.A. Ihromi, penyuting, 1979,71).
Usaha kearah pembentukan gereja yang berdiri sendiri tidak selalu berjalan lancar, karena dari pihak zending umumnya berpendapat bahwa jemaat-jemaat di Indonesia belum cukup dewasa untuk memikul tanggung jawab sendiri. Tetapi dari pihak jemaat-jemaat atau Gereja-gereja di Indonesia menyatakan justru demi mempercepat proses pendewasaan dan kedewasaan ini maka perlu gereja-gereja di Indonesia diberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengatur diri sendiri, bersaksi9 dan melayani sendiri. Maka mulai tahun 1930 dan selanjutnya, gereja-gereja di Indonesia menyatakan dirinya sebagai gereja yang berdiri sendiri, seperti: HKBP (1930), GKJ dan GKJW (1931), GKP, GKI Jatim, GMIM (1934), GKE, GPM, GKKB (1935), BNKP (1936), GBKP dan GKPB (1941). Tetapi adapula gereja yang berdiri sendiri sebelum tahun 1930, yaitu Gereja Gerekan Pentakosta (1924), Gereja Kristen Muria Indonesia (1926), Panguan Kristen Batak dan Huria Kristen Indonesia (1927) (ihromi, editor, 1979:71) usaha kemandirian tersebut di atas yang dimulai tahun 1930-1941 mengalami masalah dalam bidang tenaga pelayanan dan kepemimpinan. Hal ini disebabkan karena pada masa zending pembinaan tenaga pribumi kurang diperhatikan, sehingga pada waktu gereja berdiri sendiri masih juga bergantun pada kepemimpinan para misonaris. Oleh karena itu dimulailah pusat-pusat pendidikan para pelayan, baik oleh gereja secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Dan salah satu usaha bersama gereja Indonesia untuk pendidikan bagi tenaga pelayanan tersebut ialah didirikanh Sekolah Tinggi Theologi (Hogere Theologische school) di Jakarta tahun 1934, sekarang Sekolah Tinggi Theologi Jakarta yang bertempat di Proklamasi. (ibid, Hal. 72).
Kedua, semangat nasionalisme juga mempengaruhi jemaat-jemaat Kristen di Indonesia untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan atau membebaskan diiri dari kolonialisme Belanda, atau sebagaimana yang dinyatakan oleh Fridolin Ukur: “Sewaktu dimulainya gerakan kebangsaan itu banyak diantara orang Kristen yang ikut aktif” didalam perjuangan tersebut. Orang –orang Kristen yang ikut dalam pergerakan kebangsaan sering mendapat teguran dari para misionaris bahkan ada juga yang dikucilkan dari gereja. Hal ini menimbulkan ketegangan dan pertentangan didalam gereja, akibatnya gereja mengalami perpecahan, seperti yang pernah dialami oleh HKBP pada masa pergerakan kebangsaan. Orang-orang Kristen Batak yang tidak senang dengan sikap misionaris tersebut lalu memisahkan diri dari HKBP, yaitu: HKI (1927).

8.2.   Gereja di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)

Pada waktu terjadi perang dunia ke-2, Jerman mengadakan invasi ke Belanda maka terjadi pula perubahan yang hebat di Indonesia. Pihak Belanda menahan semua orang asing warga negara Jerman termasuk para misionaris Jerman di tahan. Akibatnya gereja-gereja di Indonesia yang mempergunakan tenaga-tenaga misionaris Jerman dan Swis mulai mengalami pukulan pertama. Gereja-gereja yang mempergunakan para misionaris Jerman dan Swis adalah gereja-gereja di Sumatera Utara dan Kalimantan. Tidak lama kemudian tentara Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, maka terjadilah perubahan ke-2. semua warga negara Belanda dan sekutunya (termasuk misionaris) ditawan loleh pihak Jepang. Gereja di Indonesia pada waktu itu mulai masauk dalam suasana berikutnya dibawah kekuasaan Jepang. Pemerintah Jepang mulai melarang berhubungan dengan dunia Barat (Eropa). Kecuali misiobnaris Swis dan Jerman (Jerman adalah sekutu Jepang waktu itu). Misionaris dari Swis dan Jerman diizinkan untuk sementara melayani di Indonesia, tetapi kemudian diangkut oleh Jepang untuk dikembalikan ke tanah air mereka. Namun banyak juga misionaris yang dibunuh oleh tentara Jepang karena dengan tuduhan bersekutu dengan Belanda dan ikut dalam kegiatan mata-mata Belanda.
Sebelum Jepang menguasai  Indonesia ada Gereja-gereja yang telah berdiri sendiri, namun ada pula  Gereja/kebanyakan  gereja  yang masih bergantung  pada bantuan misionaris. Sehingga waktu Jepang  berkuasa diIndonesia maka gereja yang masih bergantung padabantuan Zending atau misionaris mengalami kesulitan.  Dalam keadaan ini Gereja dipaksa untuk memikul seluruh  tanggung jawab termasuk tanggung jawab pembiayaan. Bila sebelumnya para pelayan Gereja mendapat  gaji dari khas sentral  yang dibantu oleh pihak Zending, maka didalam proses periode ini hal ini  tersebut tidak dilaksanakan.  Melalui tiap-tiap jemaat yang mengusahakan keuangannya sendiri dan membiayai  para pelayan tanpa bantuan dari luar, yaitu dari para misionari Eropa. Dalam situasi ini, pada suatu sisi gereja menghadapi keprihatinan tetapi pada sisi lain  pereistiwa ini telah membantu gereja untuk  bertumbuh secara dewasa.  Dalam situasi ini nyatalah bahwa Yesus Kristus Raja gereja tetap memerintah Gereja-Nya.
Selain kondisi diatas, pemerintah Jepang juga menyita harta memiliki gereja  dan dijadikan menjadi miliki  Negara. Harta milik Gereja seperti : sekolah-sekolah, rumah sakit, bahkan gedung gerejapun ada yang disita, ini disebabkan karena pada waktu itu sebagaian besar harta miliki gereja itu  belum sempat dialihkan ke status hukum untuk menjadi miliki Gereja,  sehingga berdasarkan  surat-surat resmi harta miliki Gereja masih atas nama badan zending. Kenyataan tersebut menjadi  alasan pihak  Jepang menyitanya,  karena dianggap milik asing. Peristiwa  ini juga menjadi pelajaran Sejarah bagi kita.  Setelah Jepang kalah, maka semua gedung gereja yang disita oleh Jepang  berlangsung diambil Alih  oleh pemerintah Republik Indonesia, namun  proses pengembalian kepada gereja oleh pemerintahpun mengalami waktu  yang panjang,  malah sampai dengan sekarang ini masih  ada gedung-gedung sekolah ataupun rumah-rumah sakit sakit yang belum dapat dikembalikan kepada gereja (Ibid,hlm.76). tekanan lain yang pernah  dilakukan Jepang kepada Gereja waktu itu adalah larangan beribadah, hal ini dapat diatasi setelah datangnya pendeta-pendeta dari gereja Kristen Jepang ( Keyodan). Misalnya dijawa Barat, berkat campur tangan pendeta tentara,kolonel Nomachi, Gereja mendapat surat dari pemerintah sehingga memungkinkan Gereja Kristen Pasundan ( GKP) dapat bergerak lagi tanpa ganguan dari pihak masyarakat maupun dari pihak pemerintah Jepang. Jadi kehadiran pendeta-pendeta Gereja Kristen Jepang ( Kiyadon) banyak sekali membantu kehidupan gereja-gereja di Indonesia selama masa pendukung Jepang. Pendeta-pendeta tersebut  menjadi perantara antara gereja dengan pihak pemerintah Jepang.
Pekabaran Injil pada waktu dilarang,  yang diperbolehkan adalah hanyalah ibadat hari minggu dan katekisasi bagi para pemuda Kristen. Setiap pendeta atau pejabat  gereja harus membuat laporan kekantor di masing masing propinsi tentang pekerjaan atau kemana mereka pergi . namun  gereja tetap melaksanakan  pekabaran Injil . pada masa it pekabaran Injil dilakukan oleh setiap warga gereja dan tidak bergantung kepada pejabat gereja yang sedikit banyak  dibatasiruang  gerak mereka. Disini kita juga mendapat pelajaran Sejarah  ketika pemimpin dibatsi maka warga negara terlibat dalam kegiatan misi gereja.
Pergumulan teologis yang sangat berat  yang dihadapi gereja pada pendukung Jepang adalah adanya pemaksaan agar semua orang dalam  setiap upacara harus terlebih dahulu  menghadap kesebelah  Timur matahari  terbit,  lalu tunduk meyembah kaisar Jepang. Peraturan ini mau dikenakan juga dalam setiap permulaan kebaktian dirumah gereja. Dalam hal ini gereja-gereja menolak sehingga menimbulkan ketegangan. Akhirnya berkat campur tangan para pendeta Jepang peraturan tersebut tidak dikenakan dalam kebaktian-kebaktian dinegara,  tetapi dalam upacara-upacara umum hal tersebut tetap dilaksanakan. Pengalaman pahit gereja dalam  pendukung jepang membawa gereja pada kedewasaan. Gereja menjadi dewasa melalui penderitaan. Dikatakan demikian karena tantangan pada masa pendukung Jepang Justru tidakmembuat gereja hilang  atau melemahkan gereja tetapi justru sebaliknya gereja menjadi  sadar akan tugas dankewajibannya yaitu lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiayai seluruh pembiyaannya yaitu lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiyai seluruh pembiyaan Gereja.

8.3.   Gereja di masa perang  Kemerdekaan RI ( 1945-1950)
           
Pengalaman dan kehidupan gereja di masa pendudukan Jepang sangat menetukan dan mempengaruhi jalannya sejarah gereja-gereja di Indonesia dalam periode sesudahnya.  Pada waktu Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 14 Maret 1945 maka berakhirlah penindasan dan penjajahan Jepang atas Indonesia.
            Bersmaan dengan itu usaha dan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara Sekutu yang menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda untuk menjajah lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang berkembang menjadi Perang Kemerdekaan.
            Dalam masa pendudukan Jepang Gereja-gereja Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperioleh kemerdekaan bangsa itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. Dan orang Kristen sebagai bagian integral dari bangsa ini  sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah terlibat dalam perjuangan rakyat ( Ihromi dan Wahono, 1979 :79)


8.4.   Gereja yang bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)

Alasan perhitungan pertumbuhan Gereja Indonesia oleh para ahli sejarah Gereja dimulai sejak tahun 1950, karena sejak tahun itu terjadilah beberapa hal berikut ini yang nanti menjadi ukuran pertumbuhan tersebut. Peristiwa-peristiwa itu, seperti:
Ø  Pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia. Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan pada tanggal 25 Mei 1950, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Pentakosta. Anggota DGI pada waktu itu berjumlah 29 denominasi, dan dalam perkembangan selanjutnya Gereja-gereja aliran Pentakosta pun menjadi anggota DGI atau sekarang PGI
Ø  Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia. Ada peristiwa yang berdampak pada pertambahan anggota gereja tetapi ada juga peristiwa-peristiwa yang berdampak pada berkurangnya anggota Gereja.
Peristiwa-peritiwa yang dimaksud, yaitu:
            Peritiwa Gerombolan DI-TII (1950-1962) beberapa Gereja di wilayah seperti Jawa Barat, Sulawesi dan Kalimantan Selatan. Peristiwa ini mempengaruhi merosotnya atau berkurangnya Gereja di wilayah-wilayah yang dikuasai DI-TII, di Toraja sekitar 70.000 orang Kristen mengalami terror gerombolan bersenjata, termasuk paksaan untuk beralih agama.
            Pengembalian wilayah Irian Jaya ke wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Peristiwa ini juga pada akhirnya memberi peluang untuk perkembangan Gereja secara besar-besaran di Irian Jaya. Karena sebelum penyerahan, usaha menuju kedewasaan Gereja di Irian Jaya oleh zending  berjalan cukup lamban tetapi ketika Irian Jaya menjadi bagian dari wilayah Indonesia maka DGI melalui bantuan gereja-gereja di Indonesia sangat berperan dengan baik sehingga gereja-gereja di Irian Jaya sangat berkembang pesat. Sekedar perbandingan, jumlah orang Kristen di Irian sebelum penyerahan ke wilayah Indonesia sebanyak 130.000 orang (thn. 1963, akan tetapi setelah Irian masuk wilayah Indonesia, jumlah orang Kristen bertambah menjadi 360.000 (statistic thn. 1974)
            Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gagalnya usaha Komunis dan terjadinya banyak korban, singkatnya situasi sedang kritis. Dalam situasi kritis ini orang tertarik kepada Gereja karena kesaksian Gereja yang baik, sikap gereja yang tidak memihak, mengutuk dan tidak pandang bulu, usaha Gereja membela mereka yang tidak bersalah serta bantuan kasih tanpa memandang golongan dan agama. Semua hal ini mempengaruhi orang menjadi Kristen. Tetapi secara tegas dikatakan disini bahwa bila dilihat secara keseluruhan maka factor G.30 S itu bukanlah factor yang sangat menentukan pertumbuhan Gereja.
            Anjuran pemerintah agar rakyat memilih agama yang diakui Pemerintah. Setelah gagalnya G.30 S, pemerintah menganjurkan kepada rakyat Indonesia agar memilih salah satu agama yang di akui Negara. Anjuran ini juga mempengaruhi orang untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya.
Selain itu pertumbuhan Gereja sejak Indonesia sejak tahun 1950 s.d masa kini juga harus dilihat dari perjumpaan gereja Indonesia dengan pergumulan politik, dalam pergerakan oikumenikal, dan sikap gereja di tengah masyarakat yang menganut agama lain. Ini penting disinggung karena gereja Indonesia yang bertumbuh adalah Gereja Indonesia yang akan berinteraksi dengan banyak pergumulan di Indonesia. (Ihromi, 1979 :87-91)



Evaluasi:

Mahasiswa mendiskusikan pendapat yang menyatakan: Orang Kristen adalah penumpang gelap di Negara RI (baca: orang Kristen/Gereja tidak berperan dalam gerakan nasionalisme dan perang kemerdekaan pada masa lampau)





Zending Abad XIX - XX



ZENDING ABAD XIX – XX

 Setelah mempelajari bab ini mahasiswa mampu:

Ø  Menganalisa motivasi terbentuknya badan misi yang Calvinis, Lutheran dan aliran Baptis Selam dan Pentakosta.
Ø  Membandingkan kelebihan dan kelemahan antara misionaris Calvinis, Lutheran dan Baptis/Pentakosta.
Pokok ini dibahas dalam kelompok diskusi mahasiswa

Materi Pembahasan:

7.1. Badan Zending yang bercorak Calvinis dan latar belakangnya

NZG (Nederlandsch Zendelinggenootschap)

Terbentuknya lembaga-lembaga pekebaran Injil di Belanda oleh anggota gereja pada abad ke-19 dipengaruhhi beberapa kegiatan rohani yang terjadi di London. di Nederland yang mendirikan lembaga penginjilan pada tahun 1793.
NZG didirikan di Rotterdam pada tahun 1797 oleh sekelompok orang (anggota jemaat gereja Hervormd) yang didorong atau dipengaruhi oleh pembentukan lembaga PI di Inggris, yaitu pendirian Baptist Missionary Society pada tahun 1792, London Missionary Society tahun 1795 dan oleh orang-orang Herrnhut di Nederland, yang mendirikan lembaga Pekabaran Injil pada tahun 1793.
Setelah terbentuk, NZG mengutus (zending) sejumlah pekabar Injil ke:
Afrika Selatan
India
Indonesia (sejak tahun 1839 memfokuskan misionari untuk memberitakan Injil di  Indonesia ), yaitu di Maluku sampai tahun 1864. Di Minahasa dan Timor, Jawa Timur, tanah Karo di Sumatera Utara (1890), Sulawesi Tengah (Poso, 1892), dan Boloang Mongondow (1904). Sulawesi Selatan (1851-1864), di Sawu (1870-1900).
Jumlah misionaris (zending) yang diutus NZG ke Indonesia selama periode 1813-1894 berjumlah 95 orang.
Para pelopor NZG dari anggota gereja Hervorm saja. Theology dan corak kerohanian tidak seragam. Adanya yang menganut trdisi ortodox, dan orang-orang yang memelihara hubungan dengan jemaat Herrnhut atau dengan revival di Inggris, adapula pengaruh pencarahan. Namun mereka sanggup bertindak bersama-sama karena mereka memintingkan pengalaman iman dalam kasih dan kesaksian. Oleh karena itu maka keanggotaan NZG terbuka untuk anggota gereja lain. Dalam PI NZG para utusan tidak terikat dengan ajaran pengakuan iman atau tata gereja dan tata kebaktian yang khas Hervormd. Cukuplah kalau para anggota maupuin utusan NZG berpegang pada PL dan PB sebagai dasar bagi pengetahuan akan kebenaran dan sebagai satu-satunya aturan untuk iman dan jalan hidup, serta pada abad ke-12 pasal iman Kristen. Tulisan pada materai NZG berbunyi: “Damai Oleh Darah Salip” (Van Den End Ragi Carita II,:11-20)

Para Misionaris yang diutus NZG ke Nusantara:

Ø Joseph Kam: ia berasal dari keluarga pietis di Belanda. Keluarganya mempunyai hubungan erat dengan Hernnhut, pusat kaum morafia. Diutus oleh NZG ke Indonesia dan tiba di Ambon tahun 1815. dalam pelayanannya di Ambon, ia membabtis 3000  anak-anak Ambon yang belum sempat dibabtis, akibat tidak adanya pelayanan seorang pendeta selama 20 tahun. Kemudian antar tahun 1815-1816, Kam berkhobah, mengajar, mengawasi, guru-guru dan melayankan sakramen-sakramen kepada anggota-anggota gereja disekitar Ambon dan kepada 70 jemaat dipedalaman (satu gereja sekali setahun). Selain itu ia beberapa kali mengadakan perjalan basar yaiutu ke Ternate, Minahasa, dan Sangir. Ia juga melayani di pulau-pulau selatan sampai ke Timor. Hal ini disebabkan karena tidak ada tenaga pendeta disana semasa Joseph Kam! Sepeninggal Joseph Kam pada tahun 1933, tibalah beberapa pendeta, kebanyakan wisudawan dari universitas yang tidak begitu terpengaruh oleh pietisme dan bukan utusan NZG. Dampak mereka terhadap gereja di Maluku tidak begitu menentu. Namun pada tahun 1835 datanglah guru Belanda yang beraliran pietis bernama Roskott. Roskott terbeban mendirikan sekolah pendidikan guru (SPG) guna meningkatkan taraf rohani dan kemampuan golongan guru. Satu tamatan SPGnya adalah W. Hehanusa (1799-1873) yang kemudian hari di utus ke Minahasa. Disana ia ditahbiskan menjadi pendeta Indonesia pertama dalam gereja Protestan.
Ø Johan Friedrich Riedel: ia adalah seorang Jerman yang dipengaruhi pietis. Diutus oleh badan misi Belanda, yaitu NZG. Ia diutus secara khusus untuk memberitakan Injil kepda orang-orang yang bernama suku di Minahasa. Dalam pelayanan Riedel lepas dari kekuasaan GPI, aparat pemerintah Hindia Belanda. Metode pelayanan di Minahasa: (1). Tidak memakai tenaga orang-orang di Tondano, artinya ketika ia menginjili di daerah Tondano, ia memakai bahsa setempat tanpa memakai penterjemah sebagaiman yang dilakukan oleh para misionaris ditemapat lain, seperti di Pasundan, dll. (2). Riedel tidak menjelekan adat dan agama suku setempat dengan kata-kata pedas sebagaimana yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Belanda sebelumnya. (3). Bersikap ramah kepada semua orang, mengundang mereka datang kerumahnya, memberi kopi kepada mereka dan mengadakan diskusi dan ajaran Kristen secara wajar. Metode ini cocok dengan cara orang Minahasa sendiri. (4). Menguasai bahasa daerah Tondano (sekali lagi berbeda dengan yang lazim dilakukan pendeta Belanda yang berpendapat bahwa: bahasa daerah terlalu miskin untuk dipakai mengajar ajaran agama!). hasilnya ada banyak orang Tondano yang percaya dan dibabtis Riedel.

Ø  Sementara itu NZG akhirnya dapat izin dari pemerintahan Hindia Belanda untuk memulai pekerjaan misi di pulau Jawa. Utusannya yang pertama adalah Jellesma (1817-1858). Jellesma pindah dari Surabaya ke Mojowarno pada tahun 1851.  disana ia mempercayakan orang Jawa untuk kegiatan jemaat dan penyiaran Injil. Jellesma bersikap selektif dalam menggunakan budaya Jawa dalam rangka misi gereja di Jawa. Sikap selektif ini dapat dipahami oleh karena beberapa tokoh seperto  Emde dan Coolen berbeda sikap terhadap budaya. Sikap Emde yaitu menolak budaya Jawa dalam pemberitaan Injil sebaliknya sikap dari Coolen adalah bersikap memihak atau pro kepada budaya Jawa dalam menyampaikan berita Injil. Dalam pelayanan Jellesma, berhasil membabtis 2000 oarang, memulai sekolah, menerbitkan buku-buku rohani dari cerita Alkitab dan mengumpulkan satu bundel nyanyian rohani hasil dari pekerjaan misi Jellesma adalah gereja Kristen Jawa Wetan.

Beberapa Penginjil yang bekerja diluar Badan zending dari Belanda

Emde, Coolen, dan Jellesma: pada tahun 1815 orang-orang Kristen yang berlatar belakang Jawa dan Sunda, dapat dikatakan tidak ada memang telah terdapat orang-orang Kristen Belanda dan orang-orang Kristen Indonesia dari pulau-pulau Timor, yaitu dikota-kota besar dipantai utara seperti Batavia, Semarang, Surabaya. Tetapi di pedusunan tidak terdapat orang Kristen disana. Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Jawa waktu itu tidak berminat untuk mengadakan penginjilan menjangkau orang-orang Jawa. Berhubungan kenyataan itu, kegiatan PI dilaksanakan secara perorangan dan tidaklah secara rapih dan sistematis. Kemudian muncul tiga tokoh untuk PI ke daerah Jawa, yaitu Emde dan pengikutnya di Surabaya (1851) Coenrad Coolen dan kelompoknya di Ngoro (1830) dan J.E Jellesma (1850-1858). Emde adalah seorang tukang arloji dari Jerman. Ia berlayar ke Indonesia dan tiba di Surabaya. Ia menikah dengan seorang wanita Jawa. Ia bersama istri dan anak-anaknya mengadakan PI dengan menghubungi orang-orang Jawa, kebanyakan dari golongan-golongan pembantu dari orang-orang Eropa di daerah Surabaya.
Coenrad Coolen, ia seorang Indo, ibunya bangsawan Jawa. Ia mendidik dalam kebudayaan Jawa sehingga menguasai wayang musik dan tari-tarian Jawa. Kemudian Coolen membuka hutan pemukiman sekitar 60 Km dari Surabaya, namanya Ngoro. Ngoro kemudian menjadi suatu desa yang makmur dan Coolen dikenal sebagai seorang pemimpin dan guru Kristen, ia memiliki “Ngelmu”. Dalam pelayanan penginjilan ia memakai budaya setempat, yaitu budaya Jawa dengan mengadakan transformasi (perubahan dari isi budaya tersebut). Misalnya waktu memimpin doa berkat: Coolen menyanyikan tembang: “O Gunung Semeru, O Dewi Sri, Berkatilah karya tangan kami. Dan diatas segala-galanya kami pohonkan karunia dari dan kekuatan dari Yesus yang kekuasaannya tiada bertara”. Selain itu pada hari minggu, Coolen mengadakan kebaktian di pendopo rumahnya sendiri dengan membaca satu pasal dari Alkitab menyanyikan nyanyian rohani dan berdoa dengan gaya tembang: mengahabiskan waktu dengan bermain gemelan; mengadakan wayang dan mengucapkan rumus-rumus Kristen seperti doa Bapa Kami, dsb.


Perpecahan dalam tubuh NZG

Badan misi (pecahan NZG): pada tahun 1850-an diantar anggota pengurus NZG ada yang dipengaruhi dan mengikuti golongan “modern” (liberal). Akibatnya, sebagiann anggota NZG yang tradisional dan kaum etis meninggalkan NZG dan mendirikan lembaga-lembaga baru, yaitu NZV (1858), UZV (1859) dengan wilayah pelyanan Irian Jaya Barat (1863), di Halmahera (1866), di Bali (1866-1878), di Buru (1885), dan Sulawesi Selatan (1895-1905). Selama 80 tahun (1860-1940) NZV mengutus 85 missionaris. Dan NGZV (1859), memilih Jawa sebagai medan pekerjaan misi (1862), kemudian di pulau Sumba-NTT (1881-1884), kemudian di pulau Jawa Tengah (meneruskan misi zending gereja-gereja geretomeerd/ZGKN). Jadi selama NGZV hanya mengutus 8 orang missionaries ke Indonesia. Sebagian lagi anggota tahanan tardisional dan etis tetap menjadi anggota NZG sehingga mulai tahun 1900-1940 golongan etislah yang paling menonjol dalam pemimpinan NZG. Tenaga-tenaga misi NZG adalah tenaga-tenaga professional artinya mereka diberi pendidikan selama beberapa tahun kemudian di utus menjadi missionaries dan para misionaris NZG di tempat penginjilan sebelum tahun 1843 tidak mendapat gaji tetapi mulai tahun 1843 mereka mulai mendapat gaji. Namun hal ini oleh seorang missonaris NZG, yaitu O.G. Heldring menganggap metode ini kurang mengena dan mahal sehingga jumlah missionaries yang diutus sangat sedikit. Heldring ingin mengutus orang-orang Kristen secara spontan tanpa pendidikan bertahun-tahun selain yang paling perlu, dan diutus tanpa jaminan hidup. Di tempat kerja para missionaries harus menghidupi diri sendiri, sama seperti Paulus tukang kemah, misalnya dengan bercocok tanam, berdagang, bertukang, dan sebagainya, sambil bersaksi (memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus). Heldring bersama panitia tukang Kristen berhasil mengutus 52 orang missionaries: 20 orang ke Jawa, 2 orang ke Irian Jaya Barat (1855), dan 8 ke Sangir (1857), dan Talaud (1859). GZB (Geretormeerde Zendings Bond) adalah lembaga zending yangb didirikan dalam lingkungan gereja Hervormd dan atas usul dan bantuan NZG, GZB mulai bekerja di Luwu, Sulawesi Selatan,yaitu di tanah Toraja dan kabupaten Luwu yang sekarang (1913). Jumjlah tenaga yang diutus kewilayah ini selama 1913-1942 sebanyak 15 orang missionaries. Dalam pelayanan disana, sikap terhadap adat meremka menggunakan metode A. C. Kruyt, yaitu: (1). Mendirikan sekolah. (2). Mempelajari bahasa daerah. (3). Membagikan hadiah kecil pada pertemuan hari minggu agar orang tertarik. (4). Memberi pertolongan medis kepada orang yang sakit atau luka-luka. (5). Untuk menyerang agama asli penduduk secara langsung. (6). Tetapi memperlihatkan keunggulan agama kekristenan atas agama asli itu. (7). Dari pada menyerang agama suku secara langsung sebaiknya memperdalam penyelidikan terhadap agama suku dalam hal organisasi gereja, GZB memakai zending gereja-gereja Gereformend.

Lembaga-lembaga bukan pecahan NZG, yaitu NLGIUZ adalah badan misi bantuan yang diberikan oleh orang-orang Kristen Lutheran di Belanda pada tahun 1872. NLGIUZ = Nederlandsch Luthersch Genootschap Voo In-en Uitwendige Zending. Wilayah pelayanan di Indonesia: kepulauan Batu, lepas pantai Sumatera. Para missionarisnya di didik dalam seminari RMG di Barmen.

Beberapa misionari yang diutus oleh UZV

Ø  Geissler dan Ottow: zending/utusan dari Belanda tiba di Irian (Papua) tahun 1855 dan ia melayani di suku Numtor. Geissler dan Ottow merupakan tokoh misi yang mengembangkan metode misi Paulus yang mengabarkan Injil dan disamping itu menjadi tukang (“Zending-tukang”). Dikatakan demikian karena waktu mereka di Irian, mereka menebang pohon, membuat rumah sendiri, dan berdagang untuk mengongkosi kehidupan diri. Mereka mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang Numfor (Papua). Lalu mengadakan kebaktian sendiri, akhirnya dalam bahasa Numfor. Kemudian tahun 1861 sudah dikumpulkan lagu-lagu rohani dalam…. Numfor yang segera disusul dengan terjemahan dari beberapa kitab PB. Tetapi dipegangnya sikap sangat negatif terfhadap kebudayaan Numtor (Lih. Van Den End jilid II:113-115). Namun gereja didirikan diantar orang-orang Numtor itu. Pada tahun-tahun berikutnya berdatangan banyak misionaris dari Zending UZV dengan menerobos kepedalam di berbagai tempat. Para zendeling itu menghadapi banyak kesukaran/kesulitan: iklim yang buruk, penyakit malaria, dan juga keganasan beberapa suku. Semua factor ini menyebabkan banyak korban dari para misionaris. Akan tetapi pada tahun 1940 telah di babtis 80.000 orang Irian, kebanyakan menerima Kristus secara perkampunagn (masal).


Ø  7.2. Badan Zending yang bercorak Lutheran

Badan-badan misi Jerman dan Swis

Rheinische Mission (RMG, 1828) sejak tahun 1834 mengutus missionaries melayani di Indonesia dengan wilayah kerjanya di Indonesia, yaitu Sumatera Utara (Batak), hasilnya HKBP, seorang missionaries yan terkenal dari misi RMG untuk Sumatera Utara, yaitu Nomensen. Selain itu misi RMG diusahakan di Kalimantan, yaitu GKE dan di Nias, hasilnya, yaitu BNKP dan gereja-gereja disamping BNKP.

RMG mengutus seorang missionaries sbb:

Ludwig I. Nomensen: berdirinya gereja di Sumatera dan daerah-daerah lain tahun1830-1930 di pulau Sumatera agama Islam sudah tersebar, memulai dari Aceh sejak abad ke-13. hanya dibagian utara di daerah suku Batak, Islam tidak mendapat tempat bagi dirinya. VOC tidak berani menyerang kesultanan Aceh, namun diambilnya beberapa pangkalan di Sumatera dibagian selatan seperti Padang dan Bengkulu. Namun setelah tahun 1824 kekuasaan Belanda meluas terus di Sumatera.
Orang-orang Batak memegang kuat pada agama nenek moyang. Kaum Parmalim yang dimulai pada tahun 1870 bertujujan untuk melindungi adat, upacara keagamaan dan kepercayaan tradisional terhadap Islam, Kristen, dan Kolonialisme. Tetapi orang-orang Batak itu bukanlah orang-orang biadab. Dua raja yang terkenal beradab tinggi termasuk raja Pontas Lumbantobing dan Si Singamangaraja XI dan XII. Namun terdapat disana beberpa unsure keganasan. Satu desa kadang menyerang yang lain, atau orang-orang asing diserang dan dibunuh karena masyarakat takut kena bencana kalau menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat. Kegiatan penginjilan di tanah Batak pertama kali dimulai pada tahun 1824 oleh dua utusan baptis berkebangsaan Inggris tetapi mereka ditolak, kemudian PI kedaerah ini di usahakan lagi oleh dua utusan dari Amerika, tapi mereka mati syahid akibat dibunuh oleh orang-orang Batak. Kegiatan penginjilan ketiga dilakukan oleh seorang utusan dari misi Rheinnsche Missionsgeslellschatt (RMG) pada tahun 1857 misionaris tersebut berhasil sedikit membabtis dua orang Batak pada tahun 1861. keberhasilan pelayanan di Tanah Batak diusahakan kembali melalui kehadiran seorang misionaris dari RMG, yaitu L. I. Nomensen yang tiba di Tanah Batak tahu 1862. ia disambut secara baik oleh masyarakat Batak. Ia kedaerah Silindung, ia berhasil menginjili dan memenangkan beberapa petobat. Tetapi ketika petobat-petobat diserang dan dianiya oleh musuh maka mencari tempat perlindungan di “Huta Damai” suatu desa Kristen. Dan setelah melayani selama 7 tahun tercatat 400 orang bertobat. Sepuluh tahun kemudian jumlah orang Batak yang percaya kepada Yesus Kristus bertambah menjadi kira-kira 10 kali lipat. Atas rasa gembiranya melihat perkembangan petobat-petobat baru, maka Nomensen berkata: “Bilakah orang banyak itu berlutut di depan Raja kita Yesus? Dalam bayangan tampak sudah olehku jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gedung-gedung gereja, dan orang-orang muda pergi ke gereja. Terdengar sudah olehku lonceng-lonceng berbunyi untuk memanggil mereka kerumah Allah,….. selain dari pada itu, tampak pula oleh pendete-pendeta dan guru-guru yang berasal dari Sumatera berada di atas mimbar-mimbar untuk menunjukan kepada yang tua dan muda jalan ke sorga”. (Muller Kruger, 1966:215/Culver, 1991:41).
Hasil pelayanan dari Nomensen adalah HKBP yang merupakan salah satu gereja di Indonesia dengan anggota gereja yang terbanyak.

6.3. Badan Zending yang berasal dari Amerika non Calvinis dan Lutheran (Gereja-gereja yang menganut Baptis Selam dan penekanan pada Karunia Roh)

CAMA adalah Gerakan Alliance (persekutuan) yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 1880-an. Gerakan ini merupkan hasil dari salah satu kebangunan rohani yang terjadi di Amerika Timur Laut. Pendiri dari CAMA adalah A. B. Simpson, mantan pendeta gereja Presbiterian di New York, yang keluar dari jabatan pendeta gereja tersebut, karena ingin mengabdi untuk pelayanan kepada kaum miskin dan kepada orang berdosa, selain itu karena ia tidak bisa lagi menerima kebisaaan gereja Presbiterian membabtis anak-anak. Pada tahun 1897, terjadilah penggabungan antara The International Missionary Alliance dan The Christian Alliance, dengan nama “The Chirstian And Missionary Alliance (CAMA)” yang berkedudukan/berpusat di New York, Amerika Serikat. Ajaran CAMA: Injil rangkap empat, yaitu (1). Kristus menyelamatkan. (2). Menyucikan. (3). Menyembuhkan. (4). Datang kembali sebagai Tuhan. Jadi CAMA mementingkan ajaran tentang kedatangan kembali Yesus Kristus dan Kerajaan Seribu Tahun. Pemberian perhatian akan dua hal yang dikemukakan terakhir menimbulkan dorongan untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum mendengarnya. Keyakinan para tokoh-tokoh Alliance,yaitu PI kepada orang-orang yang belum mendengar Injil mempercepat kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, dan keyakinan ini mempengaruhi metode PI. Organisasi induk di Amerika harus sederhana, sedangkan di wilayah-wilayah PI tidak boleh mendirikan sarana-sarana (rumah gereja, gedung sekolah, rumah-rumah sakit) yang serba mahal. Segala usaha diarahkan kepada PI secara langsung kedaerah-daerah yang belum dijangkau oleh lembaga PI lain. Di daerah-daerah tersebut harus didirikan gereja-gereja mirip jemaat PB. Salah satu missionary dari CAMA yang terkenal di Indonesia adalah R. A. Jaffray.
Jaffray diutus oleh CAMA untuk melayani di Tiangkok Selatan tahun 1897-1927. menjelang tahun 1928, Jaffray mendapat informasi dari pelaut-pelaut tentang ribuan orang Tionghoa yang tinggal di perantauan di Asia Tenggara. Ia merasa terbeban untuk menmginjili orang-orang Tionghoa di perantauan, maka pada tahun 1928 ia mengadakan pelayaran ke kota-kota pelabuhan di Kalimantan Timur dan pantai barat Sulawesi, Bali, dan Jawa Timur. Dari beberapa tempat yang dilalui, Jaffray sadar bahwa masih belum banyak orang yang belum mendengar Injil, untuk itu ia mengusulkan kepada CAMA di Amerika untuk membuka lading pelayanan baru di Indonesia, jawaban CAMA adalah tidak ada dana untuk membuka ladang baru, Jaffray menyatakan bahwa ia akan melaksanakan pembukaan ladang baru tersebut karena ia yakin Tuhan Menyertai. Ia mulai membentuk oraganisasi baru, yaitu ChineseForeign Missionary Union (Lembaga PI untuk orang Tionghoa di perantauan) yang bekerja sama dengan CAMA. Pada tahun 1930 Jaffray meninggalkan Tiongkok dan memulai pelayanan PI di Makasar dan menjadikan kota Makasar sebagai pusat misi Jaffray di Indonesia, dan juga menjangkau orang-orang didaerah lain seperti Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan,dan pedalaman Iran (Papua). Di Makasar , didirikan gedung bernama “Kemah Injil”, dengan gaya arsitektur pribumi. Selain itu Jaffray mendirikan sekolah Alkitab di Makasar, yang sejak tahun 1958 dengan nama “Jaffray Bible College” beberapa tahun kemudian berubah nama menjadi STT Jaffray (1966), dan mendirikan badan penerbit “Kantor Kalam Hidup atau sekarang Toko Buku Kalam Hidup”.
Medan pelayanan CAMA di Kalimantan Timur dilayani oleh seorang misionari yang bernama George E. Fisk, yang melayani sekaligus perintis di Kalimantan Timur pada tahun 1929, dengan suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah di Kalimantan Timur bagian Utara.
Pelayanan fisik di Irian: salah satu kenyataan yang harus dihadapi di Irian adalah perjalanan di wilayah-wilayah atau derah-daerah di Irian memakan waktu dan tenaga yang sangat besar. Maka Fisk mendatangkan pesawat dari Amerika Serikat pada tahun 1939, dan merupkan masa pertama menggunakan pesawat dalam tugas PI di Indonesia. Selanjutnya pesawat ini menjadi sarana PI yang penting di pedalaman Iran. Daerah yang dijangkau oleh misi CAMA di Irian, yaitu sekitar danau pantai (1938), Ballem/Wamena (1954).
Pada tahun 1951 jemaat-jemaat hasil pelayanan CAMA digabungkan menjadi tiga gereja daerah: (1). Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia Timur (KINGMIT). (2). Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia Kalimantan Timur (KINGMI Kaltim). (3). Kemah Injil gereja Masehi Indonesia Kalimantan Barat (KINGMI Kalbar).
Pada tahun 1956 CAMA menghentikan bantuan keuangan yang bisaanya diberikan kepada jemaat-jemaat suku Tionghoa yang menjadi karya missionary CAMA di kota-kota pelabuhan. Jemaat-jemaat ini kemudian bergabung dalam dua badan gereja, yaitu Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA), sedangkan anggota lian memilih nama Gereja Persekutuan Kristen (GPK).
Gereja-gereja pelayanan hasil misi CAMA kemudian mengadakan konfrensi di Makasar tahun 1965, hasilnya membentuk kesatuan gereja yang diberi nama “Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia” (KINGMI). Beberapa tahun kemudian melalui kongres di Makasar tahun 1983, gereja persekutuan dijadikan gereja kesatuan dengan nama “Gereja Kemah Injil Indonesia” (GKII), yang berpusat di Jakarta.
Dengan kesatuan ini maka dikenal/ badan gereja wilayah, yaitu:
1.      GKII bagian Timur (KINGMIT), anggota 21.000 orang.
2.      GKII Kaltim, anggota 97.000 orang.
3.      GKII Kalbar,anggota 62.000 orang.
4.      GKII Toraja (KIBAID), anggota 40.000 orang.
5.      GKII Bahtera Injil Manado, anggota 7000 orang.
6.      GKII Irian Jaya (Papua), anggota 138.000 orang
7.      GKII Jawa-Sumatera, anggota 3000 orang.(Van Den End Weitjens/jilid II, 2003:280-284)

Gereja Metodis

Denominisasi gereja metodis lahir di Inggris pada abad ke-18 sebagai hasil gerakan kebangunan rohani (Revival) yang dimulai oleh dua bersaudara , yaitu Jhon dan Charles Wesley. Gerakan ini kebangunan rohani kemudian mulai berkembang ke Amerika. Pada tahun 1784 penganut gerakan kebangunan rohani di Amerika mulai memisahkan diri dari gerakan kebangunan rohani di Inggris, dan mendirikan gereja tersendiri, yang dipimpin oleh uskup-uskup atau dikenal dengan system pemerintahan gereja, yaitu system “Episkopal” (Episcopal Methodist Church) (Ban. Van Den End dan Waitjens, 2003:207, juga Aritonang, 2005:145).
Oraganisasi gereja aliran kebangunan rohani di Amerika kemudian membentuk “Board of Missions and Church Extension of the Methodist Church = Dewan Pekabaran Injil dan Perluasan Gereja-Gereja Metodis) pada tahun 1818. badan misi ini pada tahun 1855 mengutus misionaris untuk melayani di semenanjung Melayu dan Singapura, kemudian ke Jawa, Sumatera tahun 1905 dan Kalimantan tahun 1905. dikemudian hari oleh karena keterbatasan dana maka misi metodis hanya tebatas di pulau Sumatera, yaitu dibagian timur Sumatera Utara, Medan kemudian ke daerah Palembang.
Tenaga misi metodis melayani orang Tionghoa yang tinggal di kota-kota dan orang Batak perantauan. Hal ini disebabkan karena di Batak sudah misi RMG. Dan untuk mencegah persaingan dengan RMG maka zending/ misionaris metodis berjanji bahwa mereka tidak akan bekerja di kalangan orang Batak. Tetapi banyak orang Batak Toba yang merantau ke daerah pantai dan minta diterima menjadi anggota jemaat metodis (Van Den End, 2003:207-208). Namun hubungan antara metodis dengan RMG tetap baik hak ini disebabkan oleh: (1). Metodis tidak mengusahakan perluasan misi secara besar-besaran seperti RMG. (2). Bersikap hati-hati dalam menerima anggota baru. Hubungan (kerja sama) yang baik antara metodis dan RMG diteruskan oleh HKBP yang berdiri sendiri, antara lain dalam bidang pendidikan theologo (Ibid. 208).dalam organisasi gereja metodis, maka zending metodis di Singapura di bawah uskup yang berkedudukan di Singapura. Selanjutnya hasil misi metodis di Indonesia di beri nam Gereja Metodis Indonesia (1964) dengan anggota gereja pada waktu sebanyak 11.000 orang. Anggota gereja metodis pada tahun 1989 berjumlah 54.000 orang yang terdiri dari, suku Batak Toba (75%), suku Tionghoa (12%), selanjutnya orang Karo, Simalungun, Nias, Jawa, dan daerah-daerah lain.

Gereja Pentakosta:

Gereja Pentakosta sering disebut Pentekosta atau Pantekosta. Gereja ini menurut Jan Aritonang, mengalami perkembangan yang “Paling spektakuler” pada abad ini. Artinya gereja Pentakosta dalam waktu kurang dari setengah abad telah tersebar ke seluruh dunia dan berhasil menghimpun jutaan anggota jemaat Pentakosta.
Sejarah lahirnya gereja Pentakosta bisaanya dihubungkan dengan peristiwa “Luar bisaa” yang terjadi di Topeka, negara bagian Kansas, Amerika Serikat pada awal januari 1901. pada tahun itu terjadi pencurahan Roh Kudus atau babtisan Roh, yang ditandai dengan karunia berbahasa lidah (Glosolalia). Tokoh utama (yang nampak) dari gerakan ini adalah Charles Fox Parham (1873-1929). Ia seorang pendeta Episcopal Methodist Church namun meninggalkan Gereja Metodist karena menurutnya ajaran dan praktek Gereja Metodis sudah kurang menekankan kesucian hidup dan peranan Roh Kudus.
Selain itu ada alasan lain, yaitu Parham telah mengadakan hubungan dengan kelompok Kristen yang menekankan berbagai unsure yang lebih radikal dan mendalaminya, seperti penyembuhan ilahi, babtisan dengan Roh dan Api. Selanjutnya kelompok ini terkenal dengan penumpangan tangan keatas kepala orang untuk menerima Roh Kudus (Aritonang, 2003:175).
Gereja Pentakosta pertama masuk ke Indonesia pada tahun 1922 melalui dua orang Amerika keturnan/asal Belanda, bernama C.E. Groesbeek dan D.R. Van Klaveren. Mereka berdua diutus oleh “Bethel Temple” di Seattle, di Pantai Barat Amerika Serikat. Mereka sebelum ke Jawa telah bekerja di Bali antara tahun 1921-1922 tetapi diusir oleh pemerintah Belanda, namun sebelum mereka diusir, mereka telah bekerja dengan begitu baik sehingga menarik hati beberapa tokoh yang kemudian meneruskan semangat gereja Pantekosta ke berbagai wilayah di Indonesia, yaitu keseluruh Jawa Timur,Sumatera Utara, Minahasa, Maluku, dan Irian. Salah satu pusat gerakan pentakosta di Indonesia adalah Cepu, kemudian Surabaya. Kemudian gerakan ini meluas ke Temanggung, Jawa Tengah, Cepu, Surabaya, dan Bandung, ke Sumatera. Di Indonesia Gereja Pantekosta mempunyai banyak ragam oraganisasi Gereja Pantekosta yang terbesar adalah Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI). Dengan berbgai ragam organisasi Gereja Pantekosta ini, maka pada tahun 1970 diusahakan satu-kesatuan Gereja Pantekosta yang disebut “Dewan Panetkosta Indonesia” (DPI), dan tahun 1998 berubah menjadi Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI). Selain wadah ini, adapula yang masuk kedalam keanggotaan DGI-PGI (Dewan Gereja Indonesia/Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Denominisasi gereja pentakosta yang menjadi anggota PGI adalah: GIA, GBIS, GPPS, GGP,GBI, GTDI. Selain itu ada juga yang bergantung dalam PII (Persekutuan Injil Indonesia). (Aritonang, 2003:183-184 dan Van Den End dan Weitjens, 2003:271-272).
Hal menarik dari sejarah Gereja Pantekosta yang dikemukakan oleh  Rev. Nicky J. Sumual sbb:
Pada perayaan perpisahan tahun 1900, Pendeta Charles Fox Parham, sementara satu kelompok anak-anak muda dan 40 orang dalam ruangan tempat kebaktian dan sekitar 60 orang di luar bangunan menunggu, saat-saat jam 12.00 malam akan dating sebagai tanda tahun 1900 akan segera berlalu dan detik-detik pertama tahun 1901 muncul, tradisi yang sudah melekat pada umat Kristen setempat di USA, terjadilah suatu ledakan hebat dalam sejarah penggenapan rencana Allah bagi umat manusia khususnya dunia Kristen.  Nona Agnes Ozman minta kepada Pendeta Parham agar beliau meletakkan tangan atasnya supaya menerima Roh Kudus sesuai firman Tuhan. Setelah beberapa kali meminta, pendeta Parham menyetujuinya. Ia meletakkan tangannya atas kepala nona Agnes dan berdoa beberapa kata bersungguh-sungguh, dan … tiba-tiba  nona Agnes mulai berkata-kata dalam bahasa China, dan hal ini terjadi beberapa saat  dan kemudian ia tidak dapat lagi berbicara bahasa Inggris selama 3 hari. … Pengalaman Pentakosta dari nona Agnes Ozman   ini lalu menjalar terus dan menyebabkan sepanjang bulan januari 1901 seluruh mahasiswa Bethel Bible College terlibat dalam doa dengan penuh keyakinan bahwa Allah telah mencurahkan Roh Suci kepada nona Ozman akan berbuat hal yang sama kepada mereka, dan benarlah hal ini menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat sebagian besar dari mahasiswa dan pemuda/pemudi termasuk Pdt. Parham dapat bersaksi tentang pengalaman baptisan (dipenuhi) Roh Suci, dan berkata-kata dengan lidah asing.
Dengan perasaan aneh dan agung penuh kuasa ini banyak di antara mereka yang telah menerima ledakan Roh Suci, tidak dapat menahan diri lagi setelah berserah kepada suara Tuhan yang menyuruh mereka segera pergi memberitakan Injil dengan kuasa Pantekosta ke seluruh dunia.
Dua warga Amerika keturunan Belanda yaitu Groesbeek dan istrinya dan anak-anaknya  serta van Klaveren serta istriyang dipengaruhi oleh gerakan ini kemudian mendapat visi (penglihatan) yaitu bahwa Tuhan menghendaki mereka untuk pergi ke Jawa. Kemudian mereka datang ke Pendeta W.H.Offiler dan menceritakan visi tersebut. Mereka selanjutnya diutus ke Indonesia atas biaya yang disiapkan oleh Pdt. W.H.Offiler. Biaya pengutusan itu hanya terjadi melalui mujizat Tuhan. Seorang ibu yang disembuhkan Tuhan dari penyakit tumor mempersembahkan uang 500 dollar USA. Selanjutnya kedua keluarga keturunan Belanda ini berangkat ke Indonesia dengan menumpang Kapal Suwa Maru berbendera Jepang yang hendak menuju ke pelabuhan Internasional yaitu pelabuhan Batavia (Jakarta). Berangkat dari Amerika  pada tanggal 4 Januari 1921 dan tiba di Jakarta awal Maret tahun 1921 dan melanjutkan perjalanan ke Jawa dengan kereta api Batavia Mojokerto, Surabaya dan Banyuwangi. Kemudian menumpang kapal babi (varkens boat) menuju ke Denpasar Bali pada pertengahan bulan Maret 1921.
Di Denpasar mereka mencari rumah yang layak untuk disewa tapi sulit mendapatkan, akhirnya mereka mendapatkan tempat tinggal di sebuah Gudang Kopra. Gudang itu berlantai batu merah dan beratap lalang yang bocor sebab sudah tua. Kedua keluarga ini kemudian memperpaikinya dan dibuat beberapa kamar tidur dan dapur serta ruang makan yang sederhana. Setelah berdoa kedua penginjil berkebangsaan Amerika kelahiran Belanda ini sebelumnya adalah perwira-perwira dari Bala Keselamatan. Mereka berhasil mendapatkan seorang laki-laki untuk dipekerjakan sebagai orang upahan, pembantu rumah tangga (Jongos) orang Putra asli Bali yang mengerti sedikit Bahasa Belanda. Mereka bersama seorang pemuda Bali menterjemahkan Injil Lukas kedalam bahasa Bali. Terjemahan ini kemudian dipakai oleh kedua penginjil ini dengan dibantu oleh seorang penterjemah bahasa Bali. Pokok pemberitaan adalam cerita tentang Yesus yang berkuasa member kesembuhan kepada orang sakit, berkuasa memberi keselamatan kekal kepada mereka yang ingin menjadi murid Yesus. Kotbah ini disampaikan dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan dalam bahasa Bali oleh orang Bali yang menjadi pelayan rumah tangga. Berbagai mujizat terjadi dan orang-orang Bali tertarik menjadi Kristen. Hanya dalam beberapa bulan saja berita Injil sepenuh dari kedua penginjil sudah tersebar di kota Denpasar dan sekitarnya. Malahan sudah terkenal dan orang-orang segala lapisan dating dan ingin bertemu dan membawa saudara-saudara mereka yang sakit untuk di doakan.
Pada waktu itu oleh pemerintah Belanda pulau Bali telah ditetapkan sebagai kota pelancong (kota wisata manca negara), dilarang penginjil-penginjil memasukinya. Oleh pemerintah Hindia Belanda giat menarik para pelancong Internasional orang Amerika, Prancis, Jepang, Jerman dll agar pemasukan keuangan dollar US, Pondsterling, Marks, Yen dan lain-lain Valuta asing sebanyak mungkin. Jadi pulau Bali dinyatakan sebagai tertutup bagi Injil, apalagi Injil sepenuh yang dianggap berbahaya. Tahun 1922 kedua penginjil ini atas perintah Belanda harus meninggalkan Bali dan pindah ke Surabaya. Di Surabaya mereka melayani dengan cara kerjasama dengan Bond Van Evangelisasi (BVE). Kelompok ini tingkat kerohaniannya lebih maju dari pada orang-orang Kristen lainnya. Pada saat itu Moeke Wynen adalah salah satu anggota dari Bond Van Evangelisasi. Ialah yang memperkenalkan kedua penginjil ini dalam organisasi BVE. Kedua penginjil ini disambut baik oleh tokoh-tokoh Bond Van Evangelisasi yang pada saat itu berpusat di Bandung. Kedua penginjil ini mendapat kesempatan pelayanan mimbar dan berkhotbah tentang Tuhan Yesus Pelepas; Tuhan Yesus Dokter atas segala dokter; Tuhan Yesus Pembaptis dengan Roh Kudus; Tuhan Yesus Maha Raja yang akan datang.
Pada suatu hari Pendeta Groesbeek sedang berjalan-jalan di kota Surabaya berdoa supaya Tuhan menunjukkan jalan kepadanya untuk melayani Penginjilan sendiri. Sambil berjalan langkah-langkahnya dihentar Tuhan menuju ke suatu rumah besar. Di situ duduk seorang wanita lanjut usia di serambi depan.  Roh Allah menyuruh pendeta Groesbeek masuk dan berbicara dengan dia. Saya melihat nyonya sakit: maukah nyonya disembuhkan Tuhan? Jawab wanita itu: Ya saya mau. Kemudian pendeta menyambung dengan maukah nyonya mengundang beberapa orang kawan nyonya mala mini, supaya saya menceritakan bagaimana Allah dapat sanggup menyembuhkan orang-orang sakit. Wanita itu setuju. Pada malam hari berkumpullah beberapa orang di rumah sang nyona, kemudian pendeta Groesbeek dating bersama istri dan mengadakan pelayanan di sana. Mereka mulai dengan doa dan nyanyian-nyanyian memuji Tuhan dalam bahasa Belanda kemudian menyampaikan firman Allah, Injil yang heran dan berkuasa itu.Setelah selesai firman, sang pendeta mengambil minyak dan mendoakan nyonya ini sambil mengurapinya dengan minyak urapan sesuai Yakubus 5:14-15 dan dalam nama Jesus, mengusir kuasa Setan penyakit dari tubuh nyonya itu. Nyaonya itu sembuh seketika. Semua yang hadir menyaksikannya dan merasa girang sambil memuji Tuhan atas kuasa-Nya.
Beberapa hari kemudian, nyonya ini mengajak Groesbeek untuk ke Cepu, kota minyak untuk bertemu dengan anaknya bernama George Van Gessel yang bekerja di BPM (Perusahan Minyak Belanda). Di sana diadakan pelayanan, kemudian pada tanggal 3 Januari 1923 S.I.P. Lumoindong masuk kebaktian yang pertama di Cepu yang diadakan di kamar makan keluarga G.Van Gessel, hadir 10 orang. Semua dalam kebaktian itu serba aneh buat saya, seperti ucapan Halleluayah dari pihak pendengar sementara ada khotbah dan doa atau sementara menyanyi[1]. Singkatnya pelayanan berkembang di Cepu dan kemudian tersebar ke Bandung, Manado dan tempat-tempat lain.    

Gereja Adventis

Pendirinya (yang nampak) adalah William Miller (1782-1849). Ia warga Amerika serikat. Seorang penginjil dari Gereja Babtis yang ketika khotbahnya dari Yesaya 53 kepada jemaat maka saat yang bersamaan itu ia mengalami perubahan/ pertobatan. Kemudian ia mulai berusaha menafsirkan nubuat-nubuatan dalam Alkitab, khususnya kitanb Daniel dan Wahyu. Dalam perkembangan selanjutnya kelompok ini menjadikan hari sabtu sebagai hari ibadah atau dikenal dengan nama Gereja Adven Hari ketujuh. Gereja Adven masuk ke Indonesia pada tahun 1900 oleh  seorang pendeta Methodist Amerika bernama R.W. Munson. Ia masuk gereja karena disembuhkan dari penyakitnya pada waktu dirawat di rumah sakit Adventis di Amerika Serikat. Dan atas permintaanya maka ia menjadi utusan Adventis di Asia Tenggara pada tahun1900 ia menetap di Padang. Dari sana Adventis dibawah ke Sumatera Utara (Tanah Batak) oleh Immanuel Siregar. Munson sendiri pindah ke Sumatera Utara pada tahun 1904 dan membuka pelayanan di kota Medan. Kepindahan Munson ini disebabkan karena ia mengalami perlawanan yang sangat serius di Padang dari pihak-pihak non Kristen. Sementara Gereja Adventis di Jawa (Surabaya) diusahakan oleh Sister Petra Tunheim tahun 1906 misi dari Australia. Gereja Adventis juga meletus ke Jakarta, Jawa Barat, Minahasa, Maluku, Tapanuli, Lampung,dan Kalimantan (Van Den End, 2003:294). Tahun1995 jumlah anggota dewasa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia, yaitu 110.000 orang, dalam 900 lebih jemaat. (Van Den End, 2003: 294-295).

Gereja Bala Keselamtan

Didirikan tahun 1878 di London oleh William Booth (1829-1912). Ia adalah pendeta Gereja Methodist di Inggris namun karena gereja menganggap William terlalu sibuk mengadakan kampanye PI dan terlalu banyak berurusan dengan para gelandangan, pemabuk, pelacur, dll, maka pada tahun 1862 ia keluar dari kependetaan dan keanggotaan Gereja Methodist. Dan mendirikan sebuah lembaga PI yang melakukan kampanye PI dalam kemah yang berpindah-pindah. Pada tahun 1878 organisasinya diubah menjadi “The Salvation Army” (Bala Keselamatan, BK) yang disusun menurut pola militer. Booth menjadi “Jenderal”, pekerja lainnya disebut “Kolonel”. Gereja ini masuk ke Indonesia melalui cabangnya di Belanda pada tahun 1894, dua perwira Gereja Bala Keselamatan diutus ke Jawa dan mereka menetap di Puworejo kemudian pindah ke Semarang dan disana dibuka pusat latihan untuk mendidik perwira-perwira bangsa Indonesia, kemudian tahun 1950 di Jakarta. Sejak tahun 1984 anggota Gereja Bala Keselamatan berjumlah 60.000, dengan 3.500 lebih perwira (opsir, tenaga staf) (Van Den End 2003:290-291).

Tugas Mahasiswa:

Mendiskusikan relasi definisi Sejarah Gereja adalah sejarah tafsir Alkitab dengan berbagai denominasi yang ada di dunia khususnya Indonesia.











































[1] Nicky J. Samual. Pantekosta Indonesia, hlm.48-52